Bahrizal, Pemuda Asal Pidie Pemilik Usaha “Kentang Goreng Unik Bogor”

Azhar berjualan tepat di depan gedung AAC Dayan Dawood, Darussalam, Banda AcehADZAN Ashar baru saja berkumandang saat sejumlah lelaki tiba dengan menggunakan becak mesin. Tanpa komando, mereka kemudian menyiapkan berbagai peralatan ‘tempur’ yang dibawa dengan becak.

Tenda mini didirikan di pinggir jalan dan tempat penggorengan juga disiapkan. Sejurus kemudian, dua lelaki bertugas mengupas kentang satu persatu dan kemudian memasukkannya ke dalam air.

Dengan cekatan, kentang-kentang yang dibawa dalam karung habis dikupas. Namun pekerjaan keduanya belum berakhir. Kentang yang sudah dikupas kemudian dipotong dengan menggunakan mesin sehingga bentuknya melingkar dan di tengahnya diberi tusuk menyerupai sate. Kentang ini baru digoreng oleh seorang ‘koki’ jika ada pembeli yang datang.

Kentang goreng unik Bogor. Itulah nama makanan ringan milik T. Bahrizal, pemuda asal Pidie. Saban sore, ia bersama tujuh karyawannya menjual kentang goreng unik di depan Gedung AAC Dayan Dawood, Darussalam, Banda Aceh. Ia sudah memulai bisnis kentang goreng ini sejak awal November 2012 silam.

“Alhamdulillah peminat kentang goreng ini sangat banyak,” kata Bahrizal saat ditemui detikFinance, Rabu (22/1/2014) sore.

Meski namanya kentang goreng unik Bogor, namun kentang ini bukan berasal dari Bogor Jawa Barat. Nama Bogor dipilih karena pria yang akrap disapa Ipoel ini pernah menetap di Bogor selama tujuh tahun.

Bisnis kentang goreng yang dilakoni Ipoel tergolong unik dan berbeda dengan kentang goreng yang dijual di rumah makan maupun restoran. Keunikan itu terletak dari bentuk kentang yang dililit ditusuk menyerupai sate

Usai digoreng, kentang ini kemudian di beri saos dan ditambah aneka rasa. Pembeli yang datang dapat memilih sejumlah rasa yang ditawarkan seperti BBQ, balado, keju, jagung manis, jagung bakar, ayam panggang, dan pedas manis. Tapi rasa paling diminati warga Aceh yaitu balado, BBQ dan ayam panggang.

“Ide menjual kentang goreng timbul beberapa tahun setelah pulang dari Bogor. Karena menurut saya kentang goreng sangat diminati oleh berbagai kalangan sebagai makanan jajanan,” jelas pria kelahiran 29 tahun silam ini.

Ia memperoleh kentang dari langganannya di Peunayong Banda Aceh dan semua bumbu kemudian diracik sendiri. Sebelum Ipoel membuka usaha kentang goreng unik di Darussalam, Banda Aceh, kakak kandungnya sudah duluan membuka usaha yang sama di Taman Sari Banda Aceh.

Ipoel yang sebelumnya belajar dari sang kakak akhirnya membuka usaha sendiri di lokasi tak jauh dari Taman Sari. “Lebih awal kentang goreng milik kakak tiga bulan,” ungkap Ipoel.

Untuk membuka usaha ini, Bahrizal harus menyiapkan bermacam peralatan, salah satunya adalah becak mesin untuk mengangkut alat gorengan kentang dan berbagai bumbu dari rumah ke lokasi tempat ia berjualan. Ipoel berjualan di sana tiahari mulai pukul 16.00 WIB hingga 22.30 WIB.

Minat beli masyarakat Banda Aceh khususnya mahasiswa terhadap kentang goreng milik Ipoel sangat tinggi. Dalam sehari, ia mampu menghabiskan sekitar 75 kilogram kentang dengan omzet rata-rata Rp 45 juta per bulan. Namun, kadang omzetnya sedikit menurut saat memasuki masa-masa liburan kuliah dan mahasiswa pulang kampung.

“Kalau tidak ada mahasiswa kadang hanya 20 juta per bulan,” jelas Ipoel.

Dengan membayar Rp 5.000 per tusuk, kentang goreng unik milik Ipoel sudah bisa Anda cicipi. Mau? |?Agus Setyadi