Menyasar Bisnis e-Commerce di Indonesia

e-commercePANGGUNG bisnis di segala sektor kini dipenuhi dengan anak-anak muda. Mereka bukan hanya pebisnis di bidang fashion, properti, atau kuliner. Lebih dari itu, mereka memainkan peran penting karena menggunakan e-commerce sebagai sistem pemasarannya.

Dengan kecerdasan berbisnis secara modern, tidak mustahil bila akan ada banyak investor yang mau berinvestasi ke usaha- usaha mereka. Seperti halnya produk bisnis yang ditekuni empat mahasiswa kreatif, yaitu James Tan, Michel Harits, Simon, dan Tan Jati Nugraha. Mereka mendirikan FelizKitchen.com sebagai usaha bisnis online yang menyediakan segala kebutuhan memasak.

“Berbagai keperluan masak seperti bumbu-bumbu dapur, peralatanmasak, danbuku-buku tentang kuliner kita sediakan semua,” ungkap Tan Jati Nugraha.

Pilihan bisnis e-commerce muncul seiring dengan tumbuhnya kesadaran masyarakat dalam negeri terhadap penggunaan teknologi informasi. Bisnis melalui pemasaran online juga ditunjang oleh infrastruktur jaringan internet yang semakin membaik di Indonesia.

“Dengan pemasaran bermodel e-commerce, para peminat dunia masakan maupun ibu-ibu rumah tangga akan merasa dimanjakan. Mereka dapat mencari peralatan atau bumbu masak yang tidak didapatkan di pasar, tapi bisa didapatkan di sini (Feliz Kitchen),” tutur Tan.

Sebagai sebuah bisnis yang berjalan dengan sistem modern, usaha ini memikat minat para investor. Dalam gelaran Business Launch and Investor Dayz (BLIDz) yang diadakan oleh sebuah kampus swasta di Jakarta Selatan beberapa waktu lalu, Feliz Kitchen mendapat sambutan khusus dari sebagian investor yang datang.

“Mereka tertarik karena bisnis ini berjalan secara modern dan prospektif,” kata Tan.

Minat para investor untuk berinvestasi di sektor bisnis e-commerce sebelumnya juga dialami Zalora.com, salah satu pemain besar dalam industri fashion e-commerce di Indonesia.

Perusahaan binaan Rocket Internet ini mendapatkan pendanaan dari Acces Industries senilai USD112 juta pada awal Desember tahun lalu. Padahal sebelumnya, pada Mei tahun lalu, Zalora juga memperoleh pendanaan sebesar USD100 juta dari konsorsium yang terdiri dari Summit Partners, Investment AB Kinnevik, Verlinvest, dan Tengelmann Group.

“Investasi ini membantu memperkuat posisi kami sebagai retailer fashion dan kecantikan e-commerce di Asia Tenggara. Kami akan menggunakan investasi ini untuk meningkatkan posisi kami sebagai otoritas fashion terdepan di Asia Tenggara,” jelas Managing Director Zalora Group Michele Ferrario.

Zalora merupakan contoh bahwa kalangan investor banyak meminati para pebisnis yang bergerak di sektor e-commerce. Apalagi, bisnis yang memakai strategi ini belum banyak ditekuni sejumlah pebisnis. Selama ini memang pelaku usaha yang bergerak di bidang e-commerce masih terbatas di bidang fashion, tapi siapa yang menduga jika pasar ke depan akan menginginkan sektor kuliner, properti, atau gadget.

Pasalnya, tingkat pertumbuhan angka kelas menengah terus naik dan kesadaran masyarakat untuk berinteraksi menggunakan internet juga beranjak positif dari tahun ke tahun. Karena itu, tidak ada salahnya jika para kelompok muda mulai membidik dan terjun ke sektor bisnis e-commerce.

Meski masih berstatus mahasiswa, bisnis lewat pemasaran online lebih mudah dijalankan dan dipastikan tidak akan mengganggu jadwal perkuliahan. Ke depan dimungkinkan ada banyak anak muda yang mau menjadi pengusaha.

Sebab, semakin tumbuhnya jumlah pebisnis di Indonesia akan semakin mengurangi jumlah pengangguran dan tingkat kemiskinan di Indonesia. Kehadiran para pengusaha muda pun bakal semakin memberikan lapangan pekerjaan bagi masyarakat luas. | Nafi Muthohirin