Bunda Ikoy, Muslimah Aceh di Negeri Jam Tangan

Khoiriyah alias Bunda Ikoy muslimah Aceh di Swiss (IST)

BAGI Anda yang sudah membaca buku “Berjalan di Atas Cahaya” karya Hanum Salsabiela Rais, dkk tentu tidak asing lagi dengan nama Khoiriyah. Wanita asal Banda Aceh yang kini menetap di Swiss tersebut sempat diangkat kisahnya dalam buku setebal 212 halaman tersebut yang menceritakan pertemuan Hanum sebagai reporter televisi dalam sebuah liputan orang-orang Islam di Eropa.

Bunda Ikoy, begitulah panggilan akrab muslimah Aceh ini yang sekarang bekerja sebagai pembuat jam tangan di sebuah perusahaan Swatch Group (perusahaan sekuler) asal Swiss.

Awal cerita Bunda Ikoy juga sempat dipaparkan oleh salah satu blogger Aceh, Makmur Dimila dalam sebuah komentar di blognya yang menyebutkan tentang keberadaan wanita Aceh di negeri “Jam Tangan” yang ingin menjadi seorang wali kota.

A watchmaker at Edox, one of the Swiss companies challenging Swatch's decision to stop selling timepiece components. Swatch is probably best known for its colorful, inexpensive watches, but it owns higher-end brands that compete against companies that buy its movements.  (Mathias Depardon/International Herald Tribune)“Lon baca buku Si Hanum “Berjalan di Atas Cahaya” tentang proses liputan jih di Swiss, o man, hawa teuh taseutet (Saya baca buku Hanum “Berjalan di Atas Cahaya” tentang proses liputannya di Swiss, ingin mengikutinya). Ada seorang wanita Aceh di Swiss yang bercita-cita jadi wali kota, pengen lon menjumpainya langsung,” tulis Makmur.

Keseharian Bunda Ikoy sebagai pekerja pembuat jam tangan cukuplah sederhana, dari tempatnya dia tinggal saban hari mengayuh sepeda menuju stasiun kereta kecil yang tak begitu jauh dari rumah untuk berangkat ke kota kecil Bern, tempatnya bekerja.

Bekerja di pabrik jam, bukanlah sebuah impian yang pernah dipikirkan sebelumnya oleh Bunda Ikoy. Namun, kenyataan menunjukkan lain, sebagai seorang pekerja dia pun begitu diperhitungkan oleh perusahaannya ini.

Menjadi seorang pekerja muslim satunya-satunya ditempatnya bekerja bukanlah halangan untuk dia melepaskan hijab, atasannya pun memberikan keistimewaan bagi Bunda Ikoy dalam menjalankan ibadah pada jam kerja.

“Tapi alhamdulillah di perusahaan biasa aja. Dari pertama sebelum teken kontrak, saya sudah sampaikan soal kerudung dan agama saya kepada pihak perusahaan. Saya sudah bilang, kalau misalnya saya tidak boleh pakai hijab dan beribadah di waktu kerja, saya tidak usah bekerja juga tidak apa-apa deh,” sebutnya saat diwawancara Hanum.

Istri dari Marco Kohler (Abdul Jabbar) yang juga seorang mualaf ini, selain aktif dan lihai sebagai pekerja yang merakit jam di perusahaan dengan merek ternama tersebut juga punya satu jasa terhadap Islam. Bunda Ikoy termasuk salah satu muslimah yang punya inovasi atas keberhasilannya mengadakan kuburan muslimin di Swiss.

“Bagi Bunda Ikoy, intinya adalah pembuktian, bahwa dengan jilbab yang menyungkupi kepalanya, keterampilannya merakit jam bisa melebihi mereka yang tidak berjilbab,” tulis Hanum.

Dengan kepiawannya membuat jam tangan, Bunda Ikoy selalu bersyukur atas kehidupan yang ia jalani saat ini. Tidak sedikit upah yang ia terima dari hasil keuletannya bekerja di perusahaan yang memproduksi jam-jam tangan dengan brand dunia yang mempunyai harga mencapai 6 juta rupiah bahkan lebih.

Uang yang ia dapatkan pun tidak lupa disisihkan untuk berzakat, guna membantu muslim-muslim di dunia yang kurang beruntung.

Semoga saja kisah Bunda Ikoy asal Aceh yang berada di Swiss ini bisa menjadi sosok inspiratif bagi kita semua yang penuh inovatif dalam bekerja, tidak saja untuk diri sendiri melainkan juga untuk orang-orang disekitarnya.