Produksi Melon di Paloh Lada Bisa Tembus 14 Ton

Ketua Umum Asosiasi Melon Aceh Indonesia, Sarbini Abdullah (medanbisnisdaily.com)KELOMPOK Tani Pemuda Kreatif asal Dusun Glee Madat, Gampoeng Paloh Lada, Kecamatan Dewantara Aceh Utara berhasil memanen buah melon di area satu hektar yang mencapai 14 ton dengan jumlah tanaman sebanyak 5.000 batang, beberapa waktu lalu.

Ketua Umum Asosiasi Melon Aceh Indonesia (AMAI) Sarbini Abdullah, SSos menilai, prospek bisnis melon di Aceh cukup menjanjikan saat ini terlebih harga beli di tingkat petani juga menggiurkan. Saat ini harga buah melon ditingkat petani berada dikisaran Rp8.500-Rp9.000 per kg dengan umur siap panen 70 hari, sedangkan harga jual dipasar sekitar Rp15.000 per kg.

“Market buah melon untuk Aceh dalam satu hari memerlukan satu ton, sehingga kita belum mampu untuk memasok kebutuhan pasar lokal, sedangkan beberapa hari lalu kita juga mendapat permintaan dari pasar luar Aceh, setiap hari dibutuhkan satu truk, kita belum sanggup memenuhi, untuk kebutuhan lokal saja belum mampu terpenuhi semua,” ungkap Sarbini.

Lokasi pengembangan melon yang dimiliki oleh Sarbini Abdullah di Gampong Paloh Lada terbilang sudah memadai, selain dilengkapi dengan sarana gedung pembuatan pupuk organik serta ruang training bagi petani, sekaligus gedung pertemuan, sehingga petani jika mengalami berbagai persoalan bisa melakukan urung rembuk ditempat balai pertemuan tersebut.

Sudah sejak lama Sarbini menekuni usaha ini, sehingga dirinya sudah sangat mahir terhadap perilaku melon tersebut dari mulai pemupukan organik, pupuk kimia sampai soal pemberian pestisida, makanya Sarbini jarang gagal dalam melakukan budidaya melon.

Apalagi harga buah melon stabil, menjadi faktor pendukung eksistensi budidaya ini.

“Sebenarnya dibandingkan tanaman holtikultura lainnya melon merupakan salah satu tanaman yang harganya tidak pernah anjlok, apalagi hasil buah prima, harga tetap saja tinggi. Jika dibandingkan dengan cabai merah misalnya harga selalu fluktuasi, jauh berbeda dengan melon,” paparnya.

Khusus Aceh, kata Sarbini, stok buah melon sangat berkurang, bahkan pernah dipasok dari luar Aceh seperti dari Pekan Baru Riau, Medan Sumatera Utara dan dari pulau Jawa juga, namun kualitas rasa jauh berbeda. “Melon Aceh masih tetap nomor satu soal rasa, karena disamping rasanya sangat manis juga terasa lemak,” katanya Sarbini yang telah menekuni usaha melon sejak 27 tahun silam.

Menurut Sarbini, pasar untuk bisnis buah melon di Aceh masih sangat menjanjikan. “Hasil panen kemarin sebanyak 14 ton langsung diserap oleh pasar, bahkan pedagang pengepul saling berebut untuk mendapatkan buah melon hasil produksi Paloh Lada,” jelasnya.

Sementara itu salah seorang pedagang pengepul Muzakkir, mengakui bahwa pasar melon sangat menjanjikan. “Selama ini saya pasarkan buah melon hingga sampai Banda Aceh, disamping kabupaten/kota lain di Aceh, harga jual dipasar Rp 15.000 per kg,” katanya.

Khusus di Aceh Utara, kata Muzakkir, tanaman melon terluas hanya ada di Paloh Lada milik kelompok tani pemuda kreatif. “Makanya setiap kali panen saya selalu langganan untuk mengambilnya,” katanya.

Sedangkan Ketua Kadin Aceh Utara T Moni Alwi, sangat respek terhadap keberhasilan petani melon yang dibina oleh Sarbini Abdullah. “Anak muda tidak harus mencari kerja ke kota, tapi juga bisa menjadi petani yang berhasil, bukti Sarbini dan kawan-kawan sebagai bukti pemuda yang berhasil menggeluti sektor pertanian, bayangkan per sekali panen dengan menanaman 5.000 batang, hasil panen rata-rata harga ditingkat petani Rp9.000, bisa menghasilkan uang sekitar Rp126.000.000 juta, jika panen bisa tembus 14 ton, dalam waktu singkat yakni sekitar 70 hari saja,” terangnya.

Makanya, tambah Moni Kadin Aceh Utara selalu mendorong anak-anak muda harus berani melakukan perubahan, terutama mengolah lahan pertanian dijadikan areal produktif.

“Bayangkan lahan milik Sarbini dan kawan-kawan berada diatas bukit yang tergolong kurang subur, namun dengan kesabaran dan ketekunan ternyata bisa juga menghasilkan, apalagi budidaya melon sudah ditekuni selama 27 tahun lamanya,” ujarnya.