Enviplast, Bisnis Edukatif untuk Ubah Budaya Plastik

sampah plastikWALAU harga produksi mencapai dua kali lipat dari biaya produksi plastik, produk mirip plastik Enviplast tetap konsisten dengan bisnis edukatifnya untuk mengubah budaya penggunaan plastik.

Enviplast adalah produk baru PT Inter Aneka Lestari yang kini dalam proses edukasi dan pengenalan ke masyarakat.

Hingga saat ini, Enviplast belum melakukan produksi massal karena adanya beberapa hal yang menjadi hambatan proses sosialisasi produk ini.

“Keuntungan lebih kecil saya rasa tidak ada salahnya bila dampaknya untuk lingkungan,” kata Presiden Direktur PT Inter Aneka Lestari, Herman Mulyana, dalam konferensi pers, Rabu (19/2/2014), di EX Plaza Indonesia, Jakarta.

Menurutnya, harga produksi yang mencapai dua kali lipat dari biaya produksi plastik menjadi salah satu alasan Enviplast belum sepenuhnya diterima di pasaran.

Inovasi ini diakui Herman sebagai pendukung dari Perda DKI Jakarta Nomor 13 tahun 2013 yang menyatakan bahwa pengelola pusat perbelanjaan yang tidak menggunakan kantong belanja ramah lingkungan akan dikenakan denda antara Rp 5 sampai 25 juta.

Herman mengakui bahwa media massa bisa menjadi alat utama PT Inter Aneka Lestari dalam menyosialisasikan Enviplast.

“Banyak perusahaan yang menggunakan jasa pemerintah untuk mendatangkan klien, namun kami tidak. Kami tidak mau memanfaatkan negara meski ini baik untuk negara, produksi dari singkong pun dapat menambah penghasilan negara,” ujarnya.

Herman juga menyatakan bahwa Enviplast bukan sepenuhnya bisnis dengan orientasi uang. Baginya ini merupakan bisnis edukatif dengan tujuan merubah budaya penggunaan plastik.

Hingga saat ini, Enviplast belum banyak menyentuh perusahaan yang menjadi pasarnya. Empat tahun merupakan target realistis yang disampaikan Herman. | Muhammad Fajar