Emping Melinjo Aneka Buah Karya Mahasiswa UNY Yogyakarta

POHON melinjo adalah salah satu jenis tumbuhan Indonesia yang banyak dimanfaatkan masyarakat. Daun melinjo bisa diolah sebagai sayur dan biji melinjo dapat dibuat menjadi suatu varian makanan yang berbeda yaitu emping.

Makanan yang berbahan dasar melinjo ini akrab bagi masyarakat karena selalu tersedia di mana pun. Adapun emping yang bermutu tinggi yakni emping yang tipis, bening, dan kering dengan diameter seragam, sehingga dapat langsung digoreng.

Sementara itu, emping dengan mutu yang lebih rendah bercirikan lebih tebal, diameter kurang seragam, dan kadang-kadang masih harus dijemur sebelum digoreng.

Emping yang beredar saat ini masih dibuat dalam satu rasa, sehingga kurang bervariasi. Kondisi ini menginspirasi sekelompok mahasiswa Prodi Kebijakan Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta untuk mengolah emping dengan cara berbeda.

Mereka adalah Nurhadiatmi, Fatmawati Widyansari, Kusnanik Puji L, dan Sri Ningsih. Mereka menciptakan emping rasa buah melalui pemberian rasa buah pada tahap pembuatan akhir, sehingga terdapat aroma dan cita rasa buah yang tentunya menggugah selera bagi para penikmatnya.

Menurut Nurhadiatmi, pembuatan emping seperti ini dilakukan karena sebagian masyarakat Indonesia memiliki hobi makan camilan.

“Kami berusaha menyediakan camilan unik yang sesuai dengan keinginan konsumen, karena dapat memilih sesuai rasa yang diinginkan,” katanya, Senin (24/12/2014).

Fatmawati menuturkan, emping merupakan camilan kegemaran semua usia dan segala lapisan masyarakat. Dengan emping rasa buah sebagai variasi olahan, diharapkan konsumen mempunyai pilihan baru yang lebih menarik.

Cara membuat

Menurut dia, dalam pembuatan emping melinjo rasa buah, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengupas kulit buah melinjo yang sudah tua.

Kulit buah melinjo disayat dengan pisau, atau dikelupaskan dengan tangan, kemudian dilepaskan, sehingga diperoleh biji melinjo tanpa kulit.

Biji melinjo yang telah dikupas dapat dikeringkan, kemudian disimpan terlebih dahulu kurang lebih 2-3 hari sebelum diolah lebih lanjut agar kadar airnya menurun.

Langkah kedua, biji melinjo yang sudah disimpan tadi selanjutnya disangrai di dalam wajan bersama pasir sambil diaduk-aduk hingga matang selama 10 menit hingga 15 menit.

“Biji melinjo yang telah matang tetap dipertahankan dalam keadaan panas sampai saat akan dipipihkan,” jelasnya.

Langkah ketiga adalah pemisahan biji melinjo dari kulit kerasnya. Biji dikeluarkan dari wajan, kemudian dipukul untuk memecahkan kulit keras dari biji melinjo.

Pemukulan harus hati-hati agar isi biji melinjo tidak rusak. Untuk emping melinjo yang tipis, biji yang telah dilepaskan kulit kerasnya, secepat mungkin dipipihkan menjadi emping melinjo.

Pemipihan dilakukan secara manual dan memerlukan keterampilan khusus yang hanya diperoleh melalui latihan dan pengalaman yang cukup lama.

Fatmawati menambahkan, saat proses pemipihan, ujung pemukul dapat dibungkus dengan menggunakan plastik untuk menghindari lapisan emping melinjo yang menempel pada ujung pemukul.

Kemudian, lapisan tipis emping melinjo dilepaskan dari landasan pemipih dengan menggunakan serokan seng atau aluminium.

Menurut dia, pemipihan dilakukan secara manual. Biji melinjo dipipihkan dengan memukul biji di atas landasan pemipih 1 hingga 2 kali, sehingga ketebalannya menjadi setengah dari semula.

Setelah itu, emping basah ini dijemur sampai kering hingga kadar airnya kurang dari 90 persen. Emping rasa buah diproduksi dari bahan dasar emping melinjo yang tipis serta bahan lainnya seperti gula pasir, air, dan pasta buah.

Fatmawati memaparkan, proses pengolahannya meliputi perebusan 500 gram gula pasir, 850 cc air, dan 60 ml pasta buah.

Ketiga bahan tersebut dicampur dan dipanaskan, setelah larutan ketiganya mendingin, masukan 1 kg emping melinjo dan rendam sekitar 7 menit.

Kemudian, tiriskan dan ditata pada nampan untuk dijemur. Setelah kering, emping digoreng dan didinginkan agar dapat dikemas dan dinikmati. | Siti Nuraisyah Dewi, Daru Waskita