Kisah Pendiri WhatsApp Sebelum Menjadi Miliarder

Brian Acton dan Jan Koum

Brian Acton dan Jan KoumDUA pendiri WhatsApp, Jan Koum (37) dan Brian Acton (42) belakangan ini mendadak menjadi miliarder dan perbincangan dunia. Aplikasi yang dibangun untuk komunikasi mobile sejak 2009 silam akhirnya diakusisi oleh Facebook dengan harga yang sangat fantastis, senilai 19 miliar dollar AS atau sekitar Rp 223 triliun.

Pertemuan dua orang yang pernah ditolak lamaran kerja di Facebook ini tidak membuat mereka patah semangat, hasilnya pun kini sudah terlihat jelas di depan mata.

Acton misalnya, setelah sempat ditolak lamaran pekerjaan oleh Facebook pada 2009 silam, dia pun sempat berkicau di Twitter dengan begitu optimis.

“Facebook menolak saya. Ini adalah kesempatan besar untuk berhubungan beberapa orang yang fantastis. Menanti untuk petualangan berikutnya dalam hidup,” tulis Acton pada 4 Agustus 2009 seperti dilansir The Next Web.

Selain di tolak lamaran kerja di Facebook, Acton yang punya bakat luar biasa dalam hal pemrograman juga tidak berhasil memikat perusahaan Twitter. Alhasil, dua jejaring sosial terbesar di internet ini telah melewatkan kesempatan emas dengan menolak Acton.

Latar belakang pendidikan Acton juga tidak sembarangan, ia merupakan alumni dari ilmu komputer di Stanford University, sebelumnya pernah bekerja di Apple dan Adobe. Sejak 1996, ia bekerja untuk Yahoo! hingga Oktober 2007. Jabatan terakhirnya di Yahoo! sempat menjabat sebagai vice president of engineering.

Di tahun 2007, Acton dan Koum akhirnya meninggalkan Yahoo, karena salah satu alasan tidak setuju dengan model bisnis Yahoo yang mengandalkan iklan.

Mendirikan WhatsApp

Pada tahun 2009, Acton dan Koum mendirikan WhatsApp di Mountain View, California, AS.

Nama WhatsApp begitu cepat populer sebagai aplikasi pesan instan yang paling banyak digunakan, dengan 430 juta pengguna aktif pada Januari 2014.

Jumlah pesan yang diproses juga meningkat menjadi lebih dari 50 miliar pesan per hari, dari sekitar 27 juta per hari yang terekam pada Juni 2013. Angka itu disebut-sebut sudah melebihi jumlah SMS yang beredar di seluruh dunia sehingga WhatsApp dianggap sebagai salah satu penyebab menurunnya pertumbuhan SMS di dunia.

Meski basis penggunanya tumbuh besar, WhatsApp tetap mempertahankan mentalitas perusahaan rintisan (startup). Perusahaan ini hanya memiliki 50 pegawai. Sebanyak 25 orang merupakan teknisi, sementara 20 lagi menangani dukungan multibahasa untuk pengguna.

Acton dan Koum punya prinsip kuat untuk tidak menampilkan iklan dalam layanan mereka. Dalam mengembangkan bisnis, WhatsApp punya filosofi anti-iklan, bahkan perusahaan itu memiliki manifesto menentang iklan.

WhatsApp sendiri menghasilkan uang dengan menarik bayaran sebesar 0,99 dollar AS selama setahun untuk setiap pengguna.

WhatsApp diinvestasi oleh perusahaan pemodal Sequoia Capital sebesar 8 juta dollar AS pada awal 2011. Sejak saat itu, WhatsApp tidak membuka investasi tahap baru karena mereka mampu menghasilkan uang dari layanannya, mampu menopang biaya operasional perusahaan, hingga akhirnya Facebook “jatuh cinta” dan meminangnya.

Kisah Acton ini tentu menjadi inspirasi bagaimana dia mewujudkan kerja keras dan semangat wirausaha, walaupun nasib penolakan pernah dialaminya dan kini berhasil melewati itu semua.