Masa Depan Internet Setelah 25 Tahun Lalu

SEBAGAI rangkaian survei mengenai “Masa Depan Internet”, lembaga penelitian Pew Research Center meminta pendapat sekelompok pemikir bidang ilmu pengetahuan dan teknologi mengenai kemungkinan wajah Web –yang pada Rabu (12/3/2014) lalu berusia 25 tahun– dalam 10 tahun mendatang.

Pew melontarkan pertanyaan tentang prediksi atas peranan Internet dalam kehidupan masyarakat pada 2025 serta dampaknya pada proses sosial, ekonomi, dan politik.

“Baik dan/atau buruk, apa harapan Anda mengenai dampak paling signifikan penggunaan Internet terhadap kemanusiaan secara keseluruhan mulai sekarang hingga 2025?” tanya Pew.

Berikut pelbagai reaksi yang dicomot dari selayang pandang “Kehidupan Digital pada 2025.”

Informasi Tak Kasat Mata

David Clark, ilmuwan senior Massachusetts Institute of Technology: Kian banyak peranti yang akan memiliki semakin banyak pola unik komunikasi, ‘jejaring sosial’ sendiri, yang bermanfaat dalam membagi dan mengumpulkan informasi serta melakukan kendali dan aktivasi otomatis. Semakin banyak manusia berada dalam lingkungan yang pengambilan keputusannya dilaksanakan oleh seperangkat peranti yang saling bekerja sama. Internet (dan komunikasi melalui komputer secara umum) akan lebih meluas tapi tak terlalu kentara. Segala aktivitas kita akan tersangkut Internet.”

Pendidikan Merata

Hal Varian, kepala ekonom Google: “Dampak terbesar [Internet] bagi dunia adalah akses luas terhadap pengetahuan manusia. Orang terpintar di dunia saat ini mungkin terpaksa membajak sawah di India atau Cina. Membuat dirinya dan jutaan lain yang bernasib sama dapat mengakses Internet akan berdampak besar dalam sejarah peradaban manusia. Perangkat bergerak yang murah akan tersedia di seluruh dunia, dan sarana pendidikan seperti Khan Academy akan dapat dijangkau semua orang. Efeknya terhadap melek angka dan melek hurup akan sangat besar. Akibatnya, penduduk dunia akan menjadi lebih terdidik dan melek informasi.”

Hari-hari Suram

Llewellyn Kriel, Direktur Utama TopEditor International Media Services: “Semuanya –segala hal– akan tersedia secara daring dan berbayar. Terorisme Internet akan menjadi hal umum. Privasi dan kerahasiaan data pribadi jadi masalah usang. Penyakit daring, mental, fisik, sosial, kecanduan akan menyebar dan mengganggu banyak keluarga dan kelompok masyarakat. Perpecahan akibat Internet akan membesar dan memburuk sehingga negara atau organisasi dunia seperti Perserikatan Bangsa-bangsa takkan mampu menanggulanginya. Masyarakat dunia pun akan terbelah antara negara kaya dan miskin. Perusahaan dunia akan mengeksploitasi polarisasi itu. Jejaring bandit digital akan menjadi tren. Terorisme, baik secara berkelompok maupun sendiri-sendiri, menjadi hal biasa. Dunia akan semakin tak aman. Kecakapan dan wawasan pribadi belaka yang akan menjadi juru selamat.”

Absennya Kesiapan Geopolitik

Randy Kluver, profesor komunikasi Texas A&M University: “Aspek paling terlupakan dari dampak tersebut menyangkut Internet dari sudut pandan geopolitik. Belum banyak ahli yang menitikberatkan perhatian pada masalah itu. Namun, pertumbuhan media digital menjanjikan retaknya hubungan antarnegara secara signifikan. Beberapa hal terpenting di antaranya perkembangan gerakan/aktor politik yang sifatnya multinasional, maraknya negara virtual, dampak upaya diplomasi digital, peran informasi dalam menggerogoti hak istimewa negara (pikirkan Wikileaks), dan perkembangan konflik di ranah maya (secara simetris maupun asimetris).” | Brian R. Fitzgerald