Hadapi MEA 2015, Efisiensi Perbankan Kuncinya

EFISIENSI perbankan di Tanah Air dinilai menjadi kunci, guna memenangkan persaingan dengan bank-bank dari negara kawasan regional lainnya, dalam lingkup Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) mulai tahun 2015.

Hal itu diungkapkan pengamat perbankan dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Paul Sutaryono.

“Meningkatkan daya saing itu kan caranya macam-macam. Salah satunya dengan menaikkan tingkat efisiensi (bank),” ujar Paul saat dihubungi di Jakarta, Selasa (3/6/2014).

Paul menuturkan, untuk melihat seberapa efisien perbankan bisa dihitung dari rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO). Saat ini, BOPO perbankan nasional sekitar 70-80 persen.

“Kalau dibandingkan dengan bank-bank di kawasan ASEAN, (mereka) BOPO-nya sudah mencapai 40-60 persen. Jadi, mestinya regulator baik BI atau OJK mengarahkan ke sana, walaupun itu pelan-pelan,” kata Paul.

MEA pada 2015 nanti masih ditujukan untuk perdagangan bebas, sedangkan untuk perbankan baru akan dilaksanakan pada 2020. Menurut Paul, untuk mengarahkan bank-bank agar lebih efisien, pelaksanaannya harus dilakukan secara bertahap.

“Jantung” Selain efisiensi, lanjut Paul, perbankan juga perlu meningkatkan modal, yang merupakan “jantung” bagi bank untuk menangkis berbagai risiko yang timbul, seperti risiko pasar, risiko operasional, risiko kredit, ataupun risiko likuiditas.

“Jadi mau tidak mau modal itu harus dipacu lebih tinggi lagi, sudah tidak ada rumus lain. Apalagi sekarang ini risiko likuiditas tinggi. Di pasar likuiditasnya ketat dan mencari dana itu sulit, kata Paul.

Selain itu, peningkatan infrastruktur juga termasuk langkah yang dapat dilakukan, untuk meningkatkan daya saing dan alat untuk penetrasi pasar.

Salah satu bank plat merah yang mengalami masalah efisiensi adalah Bank BTN. BOPO BTN per Desember 2013 mencapai 82,19 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan Bank Mandiri 67,66 persen, BNI 67,1 persen, dan BRI 60,58 persen.

Persoalan efisiensi juga membuat suku bunga dasar kredit (SBDK) BTN lebih tinggi dibandingkan bank-bank nasional lain, yakni 11,5 persen untuk KPR dibandingkan BCA 10,5 persen, BRI 10,25 persen, Bank Mandiri 11 persen, dan BNI 11,1 persen.

Hal itu terjadi, karena besarnya porsi dana mahal (deposito) BTN dibandingkan dana murah (tabungan dan giro).

Paul menilai, salah satu penyebab tingginya BOPO BTN karena naiknya suku bunga acuan (BI rate) yang cukup signifikan pada 2013 lalu.

“Suku bunga acuan juga tidak turun-turun dari November 2013 pada level 7,5 persen. Kalau tidak turun, itu berarti likuiditasnya makin ketat. Kalau ketat, itu terpaksa bank menawarkan suku bunga simpanan seperti deposito menjadi lebih tinggi,” ujar Paul.

Dengan lebih tingginya bunga simpanan, berarti perseroan akan mengeluarkan biaya dana (cost of fund) lebih besar. Jika biaya dana lebih tinggi, suku bunga kredit pun ikut meningkat.

“Sekarang sudah terbukti kan, kredit KPR sudah mulai naik,” ujar Paul.

Akuisisi BTN Terkait dengan rencana akuisisi BTN oleh Bank Mandiri, Paul menilai, langkah tersebut memang dapat membantu meningkatkan efisiensi Bank BTN, namun perlu dilakukan dengan hati-hati.

“Akuisisi memang menjadi salah satu cara yang bagus. Tapi Bank Mandiri dan BTN itu kan bank-bank besar, jadi harus hati-hati. Karena resistensinya tinggi. Beda sama akuisisi bank kecil, yang justru bisa menyelamatkan bank kecil tersebut. Kalau bank besar yang sudah mapan begitu, harus hati-hati,” ujar Paul.

Tingginya rasio BOPO, keterbatasan modal, dan jaringan cabang, yang minim membuat Bank BTN `kalah bersaing dan terlempar dari kelompok 10 bank besar di Indonesia.

Pada 2001, Bank BTN masih menjadi bank ketujuh terbesar dari sisi aset, namun sejak awal 2005 sudah terlempar dari 10 besar. Bahkan, Bank BTN tidak lagi masuk kelompok sepuluh bank penghimpun dana masyarakat dan penyalur kredit terbesar sejak tahun 2003.

Problem Sementara itu, pengamat ekonomi dari EC Think Imam Sugema mengatakan, tidak efisiennya perbankan juga menjadi problema bagi dunia usaha di Indonesia, karena masih terlalu tingginya suku bunga kredit.

“Jadi kalau kita ingin memenangkan persaingan, berarti harus menurunkan suku bunga kan. Sumber masalah dari terlalu tingginya suku bunga itu, pertama kebijakan BI juga yang menerapkan policy suku bunga acuan yang masih terlalu tinggi dibandingkan dengan negara-negara tetangga,” ujar Imam.

Sumber masalah lainnya, lanjut Imam, yakni tren tingginya marjin bunga bersih (net interest margin/NIM) atau selisih yang besar antara bunga kredit dengan bunga simpanan, dan juga bentuk pasar di Tanah Air yang oligopolistik.

“Dua masalah itu yang harus diselesaikan jelang MEA,” kata Imam. | Antara