Tari Saman Gayo Massal Tembus Rekor MURI dan Dunia

TARI Saman Masal yang dipentaskan oleh 5057 penari di Kabupaten Gayo Lues akhirnya berhasil memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) yang berlangsung meriah dan lancar di Stadion Seribu Bukit, Senin (24/11/2014).

Wakil Bupati Gayo Lues, Adam SE selaku Ketua Panitia dalam laporanya di Stadion Seribu Bukit mengatakan, tujuan diadakanya Tari Saman Gayo Lues tersebut untuk memecahkan rekor MURI terbanyak diseluruh dunia, yang awalnya di rencanakan diikuti oleh 5005 Penari dari 144 Desa, Perwakilan Sekolah SLTP dan SLTA, TNI, dan Polri.

“Acara tari Saman Masal Gayo Lues ini juga di hadiri oleh tokoh dan beberapa Bupati, diantaranya Kabupaten Aceh Tenggah, Bener Meriah, Aceh Tenggara, Singkil, Aceh Timur, Nagan Raya dan perwakilan dari Kabupaten Tanah Karo,” katanya.

Usai dilaksanakan acara tari Saman yang pada hari itu sekaligus diperingati sebagai Hari Saman Sedunia, Deputi Manajer Museum Rekor Indonesia, Awan Rahargo langsung mengumumkan dihadapan ribuan penari dan penonton, dirinya meminta maaf karena tari Saman Gayo Lues yang baru saja dilakukan tidak bisa menjadi sekala nasional, akan tetapi dalam gebrakan dan semangat yang besar, Tari Saman dikukuhkan menjadi rekor dunia.

“Ini jati diri bangsa, tari Saman Gayo Lues telah mampu digelar dengan begitu dahsyat, kami yakin acara tarian seperti ini belum pernah terjadi dibelahan dunia manapun, dan sekarang kami sudah menyaksikan di bumi Seribu Bukit Kabupaten Gayo Lues,” katanya.

Sebelumnya, Awan juga menyebutka, empat tahun lalu MURI sudah pernah mencatat rekor penari Saman terbanyak dengan jumlah 3.000 orang di Banda Aceh. Tetapi, kali ini kegiatan di Gayo Lues mencatat untuk rekor dunia. “Harapan kami, ini adalah tradisi milik dunia yang wajib dilestarikan,” ungkapnya.

Sementara itu, Bupati Gayo Lues, Ibnu Hasyim SSos dalam sambutannya menuturkan, pergelaran lebih dari 5 ribu penari tersebut merupakan salah satu upaya pelestarian Tari Saman. Selain itu, pihaknya ingin menunjukkan kepada dunia serta United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) bahwa kegiatan itu merupakan komitmen masyarakat Gayo Lues untuk menjaga mengembangkan serta melestarikan Tari Saman. Ibnu menyebutkan, pihaknya berencana membangun gedung Saman Center.

Tari Saman disahkan oleh UNESCO di Pulau Dewata, Bali, pada tanggal 24 November 2011 silam dan masuk pada salah satu kategori Warisan Budaya Tak Benda Milik Dunia dengan nomor registrasi 01.01.01.001.

Indonesia sendiri baru mendapatkan enam pengakuan dari Unesco untuk warisan budaya kategori tak benda, yaitu Wayang, Keris, kain Batik, Angklung, Subak di Bali dan Tari Saman yang merupakan tarian rakyat dari Tanah Gayo.

Seperti yang telah kita ketahui, sejarah Tari Saman sangat erat kaitannya dengan sejarah penyebaran agama Islam di Aceh. Tari ini disebut Tari Saman karena diciptakan seorang Ulama bernama Syekh Saman pada abad 14 Masehi.

Awalnya tarian ini merupakan permainan rakyat yang kerap ditampilkan dalam pesta adat dan budaya di tanah Gayo. Karena sangat menarik, tari ini kemudian dikembangkan oleh penciptnya dengan diperkaya syair dan pujian kepada Allah SWT dan kemudian digunakan sebagai media syiar Islam.

Seiring perkembangan zaman, Tari Saman kini menjadi salah satu seni budaya yang banyak dipelajari di sekolah-sekolah. Bukan hanya di Aceh, tapi juga di luar Aceh dan bahkan di luar negeri. Begitu menariknya, sehingga Tari Saman kerap menjadi ikon Indonesia dalam berbagai festival seni budaya dunia.