Menggerakkan Hari Kepedulian bersama Komunitas

BUKAN hal yang tidak mungkin, mereka yang berkecimpung dalam media sosial atau daring harus terpaku dengan ranah itu-itu saja tanpa menyentuh sisi sosial yang sebenarnya, yakni kehidupan nyata.

Satu hal yang menjadi sebuah kegemaran saya sejak dulu adalah berkumpul dengan teman-teman komunitas, tidak sedikit ide dan semangat muncul dari hasil berbagi inspirasi bersama komunitas yang mempunyai anggota beragam dan pengalaman yang begitu unik dan menarik.

Belajar dari satu komunitas ke komunitas media sosial lainnya menjadi sebuah peluang dalam mengenal sumber daya yang kita miliki, artinya kita harus dekat paham dengan SDM yang dimiliki oleh putra-putri daerah. Ini tentu sangat bernilai selama saya berkecimpung dalam komunitas sejak tahun 2006 silam.

Menggerakkan komunitas tidak bisa berjalan jika ide yang terwacanakan atau sebatas terpikirkan, salah satu aksi yang menguatkannya adalah lewat kebersamaan semangat dan bertindak. Hari Kepedulian (Care Day) misalnya yang baru-baru ini sedang digerakkan oleh lintas komunitas dan elemen di Aceh bisa menjadi contoh bahwa semangat kebersamaan muncul.

Selain menggerakkan komunitas, hal yang masih sangat pondasional dibutuhkan adalah keterpanggilan jiwa. Menyambut satu dekade peringatan 10 tahun tsunami, masyarakat luas dalam hal ini keterwakilan lintas komunitas menjadi sangat berarti.

Duek Pakat Lintas Komunitas Hari Kepedulian (Foto @Zulhidayat_AY)Saya menyebutkan diskusi dengan duek pakat, sebagai bentuk sebutan kearifan lokal yang sedari dulu telah dipopulerkan oleh para orang-orang tua. Disini sangat terlihat, dari pertemuan pertama lintas komunitas hanya hitunggan jari berangsur-angsur terus bertambah menjadi puluhan anak-anak muda hadir pada pertemuan kedua untuk berbagi ide dan saran sambut kegiatan #2612CareDay.

Tidak perlu sesuatu yang cet langet jika ingin membuat satu hal yang sederhana, momen satu dekade tsunami sudah sepatutnya menjadi seremonial yang sakral dan diperingati dari kalangan masyarakat hingga dengan stakeholder atau pemerintah.

Ada sebuah celotehan yang sangat mengenai dihati saya beberapa waktu lalu saat menyeruput kopi, dalam sebuah bacaan dan suara hati paling dalam, seseorang mengatakan seperti ini, “Apa yang akan terjadi 20 atau 50 tahun mendatang bagi anak cucu kita?  Apakah mereka akan ingat bahwa Aceh dulu pernah ditimpa musibah gempa dan tsunami. Kalau kita sekarang hanya mengingat saja, bisa jadi kedepan generasi kita tidak akan mengingat lagi.”

Saya ingin menutupnya dengan sebuah prolog yang juga sangat sederhana, Tsunami Aceh yang menyedihkan telah berlalu selama sepuluh tahun. Puing-puing dan korban jiwa yang berserakan kini telah terkubur abadi sebagai kenangan, cerita, dan benda-benda peninggalan bersejarah di dalam sebuah kawasan wisata. Daya tarik yang dilahirkan di sini bukan hanya mengabadikan saksi sejarah, masyarakat juga terus diingatkan untuk mengantisipasi bencana.

Bukan butiran air mata tangisan yang ingin kita ungkit kembali, bukan pula mengorek duka lama yang telah satu dekade berlalu. Kita telah tersadar dengan segala musibah yang pernah menimpa, kehilangan orang-orang yang kita cintai, orang-orang yang kita kasihi, semua atas nama titipan tidaklah kekal abadi di dunia ini.

Kini kita telah menatap hari baru, bukan sekedar harapan yang kita pupuk lalu hilang begitu saja. Selalu ada refleksi dari setiap musibah yang menimpa, selalu ada hikmah dibalik kisah duka yang kita lewati. Bangkit dan terus bangkit!