Hadapi MEA, Kerajinan Indonesia Disukai Warga Asing

International Handicraft Trade Fair 2015PADA akhir tahun 2015 ini, kawasan Asia Tenggara resmi memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN. Dengan demikian, bisnis di kawasan ASEAN semakin dimudahkan. Perpindahan orang dan barang pun akan semakin fleksibel setelah pasar bebas ASEAN diberlakukan mulai 31 Desember 2015 mendatang.

Dalam hal ini, pembentukan pasar tunggal yang diistilahkan dengan MEA itu nantinya memungkinkan satu negara menjual barang dan jasa dengan mudah ke negara-negara lain di seluruh Asia Tenggara sehingga kompetisi akan semakin ketat.

Namun, sejumlah kalangan menilai, dari 10 negara ASEAN, Indonesia dan Myanmar menjadi dua negara yang paling tak siap menghadapi MEA 2015. Penilaian tersebut bisa jadi subjektif, tetapi mungkin juga ada benarnya. Pasalnya, jika dilihat dari peringkat Indonesia di tingkat global (The Global Competitiveness Index/GCI) tahun 2014, Indonesia menempati posisi ke-38 dari 148 negara yang disurvei dengan skor 4,53.

Di tingkat ASEAN, daya saing Indonesia ini, masih berada di bawah sejumlah negara ASEAN lainnya seperti Singapura (2), Malaysia (24) Thailand (37) dan Brunei Darussalam (26). Indonesia hanya menang atas Kamboja (88), Laos (81) dan Myanmar (139). Jadi, wajar saja kalau ada sejumlah pihak yang meragukan kesiapan Indonesia mengimplementasikan MEA.

Berdasarkan data GCI 2014 itu, daya saing Indonesia pada 2014 ini sebenarnya telah mengalami kemajuan ketimbang tahun sebelumnya dimana posisi Indonesia berada di peringkat 50 dengan skor 4,4. Karena itu, ini harus menjadi semangat buat warga kita bahwa Indonesia akan siap menjalankan pasar tunggal MEA. Optimisme harus ditumbuhkan dan juga disertai kerja keras.

Setidaknya dalam pameran internasional kerajinan Indonesia (International Handicraft Trade Fair-INACRAFT 2015) yang berlangsung di Jakarta Convention Center pada 12 April 2015 lalu, bisa dilihat bahwa warga Indonesia sebenarnya sudah siap menghadapi era pasar tunggal ASEAN.

Dalam pameran tersebut, beribu perusahaan skala kecil dan menengah menawarkan produk kreatif mereka untuk dijual di pasar global. Antusiasme warga lokal dan asing untuk mendatangi pameran juga cukup besar. Ini menjadi bukti produk Indonesia dicintai warganya.

Otoritas Kementerian Perdagangan RI lewat laman resminya menyebutkan, industri kreatif kerajinan dapat menjadi kunci dan kekuatan penting dalam menghadapi MEA. Berdasarkan data Kemendag RI, ekspor produk kerajinan ke ASEAN selama lima tahun terakhir mengalami pertumbuhan 14,11% dengan nilai USD 27,8 juta pada 2014.

Ekspor kerajinan Indonesia pada 2014 tersebut juga tumbuh sebesar 3,76% dengan nilai ekspor USD 694,34 juta. Tren positif tercatat sebesar 2,63%. Ini menjadi bukti yang tak bisa disanggah kalau para pelaku industri kreatif di Indonesia sebenarnya sudah siap menghadapi MEA. | pikiran-rakyat.com