Indeks Competitiveness Pariwisata Indonesia Tembus 50 Besar Dunia

Panorama eksotis di Misool Eco ResorTARGET Kementerian Pariwisata di akhir 2019 menembus peringkat 30 besar dunia semakin terang. Ini setelah rilis dari World Economic Forum di awal 2015 ini, Indonesia sudah naik 20 poin, dari papan 70 besar dunia menjadi peringkat 50 besar, dari 141 negara.

“Makin bagus indeks competitiveness kita, makin nyaman wisatawan mancanegara dan domestik ke berlibur ke semua destinasi di tanah air,” kata Menpar Arief Yahya.

Apa yang dilakukan Arief Yahya untuk menembus 30 besar itu? “Saya langsung berkoordinasi dengan Kepala-Kepala Dinas Pariwisata di daerah, yang menangani teknis di daerah. Kami punya group messenger yang bisa berdiskusi langsung. Era otonomi itu, tanggung jawab objek wisata ada di daerah, dan Kadis berperan besar menuntaskan persoalan-persoalan krusial di daerah yang berpotensi menghambat wisatawan. Kami terus perbaiki,” cetus menteri bintang lima versi survei Lembaga Survei Alvara itu.

Menpar juga melakukan koordinasi vertical dengan Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla untuk menempat sector pariwisata sebagai salah satu lokomotif baru perekonomian nasional. Mengapa itu harus dilakukan? “Pariwisata ini tidak bisa berdiri sendiri. Sangat terkait dengan departemen lain, instansi lain, bidang lain, karena itu kami harus melakukan koordinasi horizontal dan vertical dengan baik,” kata pria asli Banyuwangi yang tahun 2013 dinobatkan sebagai Marketeer of The Year oleh Markplus itu.

Indeks Competitiveness itu mengamati secara detail, soal peningkatan infrastruktur di objek wisata? Baik di bandara, pelabuhan laut maupun antarkota? Bagaimana prioritas nasional dan komitmen pemerintah pada industri pariwisata? Bagaimana rencana peningkatan jaringan teknologi informasi dan komunikasi? Sarana transportasi darat, laut udara, atau konektivitas antarkota? Bagaimana fasilitas kesehatan dan kebersihan? Kekayaan alam, dan perlindungan terhadap keanekaragaman hayati?

Bagaimana merawat dan memberdayakan gedung-gedung heritage yang kaya sejarah dan patut dilestarikan? Pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan? Penghijauan dan penanaman kembali kawasan tandus dan gundul? Unit pengolahan limbah yang baik? Tingkat keamanan dan kenyamanan? Patokan harga barang dan jasa? Lingkungan bisnis? SDM dan pasar tenaga kerja? Fasilitas pelayanan umum buat turis? Semua itu dipantau, dinilai, dan diranking oleh WEF dan diumumkan secara berkala secara terbuka.

Makin kecil peringkatnya, itu indikator makin nyaman turis berkunjung di sana. Makin available didatangi turis. Dan makin sustainable, industri yang bergerak di sector pariwisata ini. Itulah poin-poin yang menentukan masa depan dan keberlangsungan industri pariwisata. Apakah sebuah kawasan bisa tumbuh signifikan dan menjadi lokomotif penghela ekonomi? Atau hanya bagus objek dan potensinya, tapi tidak punya prospek yang bisa diandalkan ke depan? Itu semua mempengaruhi sukses tidaknya menjadikan pariwisata sebagai program unggulan.
Ibarat penyanyi dangdut, goyang di atas, juga goyang di bawah.

“Kami menggenjot pemasaran, gencarkan branding, perkuat sales, undang turis masuk ke tanah air. Di bagian lain, kita juga harus benahi services di destinasi objek-objek wisata. Saat turis tiba, mereka nyaman, tidak complain, dan akhirnya menjadikan Indonesia sebagai destinasi wajib setiap tahunnya,” kata Arief Yahya, yang lulusan S-1 ITB Bandung, S-2 Surrey University Inggris, dan S-3 Unpad Bandung itu.

Peringkat Travel & Tourism Competitiveness Report 2015 yang disurvei World Economic Forum (WEF) itu penting untuk menentukan focus perhatian. Ada 14 indikator, tinggal mana yang harus diprioritaskan, mana yang bisa ditunda, dan semua akan saling terkait saling berpengaruh.

“Prinsip kami, utamakan yang utama! Harus ada prioritas, untuk percepatan jumlah kunjungan,” tuturnya.

Saat berdialog bisnis dengan banyak travel agents dan wholeseler di Beijing, China lalu, Menpar Arief Yahya juga sudah mendeskripsikan objek destinasi wisata Indonesia itu ratusan jumlahnya. Dari ujung barat sampai ke timur, dari utara sampai ke selatan. Bawah laut Nusantara lebih dramatic lagi, ribuan divesite yang masih perawan. Tour operator dan publisher di Beijing pun, seperti CTRIP.com, CITS, CYTS, Tuniu.com, CAISSA Group, sangat terkesima dengan gambar-gambar potensi wisata Indonesia.

“Ada 6 marine tourism yang sudah mencakup 70 macam coral dunia di Indonesia, Raja Ampat, Wakatobi, Bunaken, Derawan, Lombok, Labuan Bajo. Tempat-tempat itu recommended,” kata menteri pariwisata yang ke-14 ini. Dan ketika marketing bergerak itu, maka semua indicator yang dinilai oleh WEF itu menjadi faktor penentu. | Agus Purwanto