PATA Indonesia Komit jadikan Aceh sebagai Destinasi Wisata Muslim

PACIFIC Asia Travel Association (PATA) Indonesia Chapter menyatakan komitmennya untuk menjadikan provinsi paling ujung Sumatera, yakni Aceh sebagai Destinasi Wisata Muslim kelas dunia.

Hal tersebut terungkap dalam acara jumpa pers yang bertempat di President Lounge, Menara Batavia, Jakarta, Kamis (18/6/2015) lalu seperti dilansir DetikTravel.

“PATA Indonesia dengan PATA Regional Aceh berencana untuk membuat film layar lebar. Judulnya Aceh-Turkey in Love. Berkisah tentang hubungan Kerajaan Turki Utsmani dengan Kerajaan Aceh di era Sultan Iskandar Muda. Mulai syuting tahun depan,” ujar Rahmat Zulfikar, perwakilan PATA regional Aceh.

Selain membuat film, PATA Indonesia juga berencana untuk melakukan sertifikasi terhadap para pelaku industri pariwisata di Aceh. Sertifikasi ini bertujuan untuk meningkatkan mutu layanan, serta menetapkan standar pelayanan yang optimal untuk wisatawan. Diharapkan sertifikasi ini akan selesai pada Oktober 2015.

“Salah satu tujuan kita memang ingin membangun pariwisata di Aceh. Bukan Kita yang bangun, Kita lebih ke arah empowering. Untuk itu kita rangkul semua stakeholder yang ada untuk bekerja sama memajukan pariwisata muslim di Aceh,” terang Poernomo Siswoprasetijo, CEO PATA Indonesia Chapter.

Dia juga mengungkapkan masih banyak potensi yang bisa dikembangkan di Aceh, terutama budaya, tradisi serta nuansa islami yang begitu kental di sana. Pasar internasional pun masih terbuka lebar untuk Aceh.

“Untuk wisatawan dalam jumlah besar, 3000-5000 orang sekali datang, Aceh itu belum masuk ke dalam peta mereka. Ini yang PATA upayakan, agar Aceh bisa masuk ke dalam katalog,” ujar Poernomo.

Strategi tersebut akan didukung oleh promosi gencar dari pihak Kementrian Pariwisata akan berdampak besar. Dengan program yang bagus, destinasi yang bagus, otomatis akan mudah diterima pasar internasional.

Foto Udara Banda Aceh dan Aceh Besar

Tak Ada Jam Malam

Sementara itu, Wali Kota Banda Aceh Hj. Illiza Sa’aduddin Djamal yang tersambung lewat video conference dalam kesempatan yang sama juga menjelaskan terkait jam malam bagi perempuan di ibukota provinsi tersebut.

“Isu jam malam memang sangat seksi dan dikeluarkan oleh orang-orang tidak bertanggung jawab. Sebenarnya, pemerintah kota Aceh tak pernah membuat jam malam. Aturan ini hanya melanjutkan Instruksi Gubernur tentang pengawasan, penertiban dan pelaksaanaan syariat Islam di tempat wisata, penyedia jasa internet & tempat hiburan di Banda Aceh,” jelasnya.

Pemberlakuan aturan jam malam tersebut, menurut Illiza, hanya berlaku kepada para pekerja wanita yang bekerja di industri tersebut, bukan untuk wisatawan. Jam malam pun ditetapkan hingga pukul 23.00 WIB. Lewat dari jam itu, para pekerja wanita dilarang untuk bekerja.

“Jadi, kalau wisatawan wanita mau ngopi hingga jam 02.00 dinihari di warung kopi 24 jam ya tidak apa-apa. Boleh saja,” ungkapnya.

Instruksi tersebut justru dimaksudkan untuk melindungi para pekerja perempuan, tidak ada unsur diskriminatif di sana. Tak hanya itu saja, izin tempat-tempat hiburan pun dibatasi hingga pukul 00.00 WIB.